Jumat, 13 Maret 2009

Hanoi Tak Lagi Kota Sejuta Sepeda

Saya masih inget jadul saat nonton felem felem yang menggam barkan kehidupan di kota Hanoi, pasti yang tergambar adalah ribuan sepeda hilir mudik, dengan pengemudi perempuannya memakai caping (ngerti nggak tuh, topi yang mirip topi pak petani di Indonesia). Saat ini ketika saya berada di pusat kota Hanoi gambaran sejuta sepedah dah sirna. Yang ada ribuan sepeda motor man! jangan ditanya bagaimana mereka mengemudikannya, yang pasti saat mau menyebrang jalan bersiaplah untuk berakrobatik bila ingin selamat. Atau paling enggak mereka yang jago main "gala asin" ilmunya bakal kepake di sini. Gala asin itu permainan tradisional masa lalu, kita harus ngelewatin garis-garis yang dijaga lawan...capek ah ngejelasinnya, salah sendiri kenapa lageee nggak lahir dijaman gue!
Hanoi dengan sejuta sepeda motornya jadi terlihat ribet, simpang siur. Saya paling suka menikmati pemandangan kaki limanya yang banyak dijadikan tempat makan. Ada bangku2 kecil disediakan, trus pembelinya duduk santai di trotoar sambil menikmati makanan yang dipesan. Begitulah Hanoi sekelebat yang saya lihat, sekelebat ya karena saya cuma dua malem di sana.

1 komentar:

Lina mengatakan...

Dan super bising. Bunyi klakson tidak berhenti. Iseng2 pernah nanya sama tour guide. Katanya memang begitu aturannya. Kalau belok kiri, belok kanan atau mendahului, kudu tekan klakson. Mereka tidak mengenal pakai lampu sign. Kalau di HCMC, lebih berkurang dikit bunyi klaksonnya. Dikiiittt aja... tapi cara nyetir tetep sama, ugal-ugalan.